Bukit Rhema bukan sekadar tempat yang dikunjungi. Ini adalah ekosistem yang melayani — dari pemulihan jiwa, pemberdayaan ekonomi, pendidikan anak, hingga ruang doa yang terbuka untuk semua bangsa.
"Rumah-Ku akan disebut Rumah Doa bagi segala bangsa."
— Visi Daniel Alamsjah, 1988
Inilah inti dari keberadaan Bukit Rhema. Bukan wisata, bukan museum — melainkan sebuah Rumah Doa yang terbuka untuk semua agama dan semua bangsa, tanpa terkecuali.
Di setiap sudut bangunan 7 lantai ini, tersedia ruang-ruang hening untuk berdoa, merenung, dan bertemu dengan Tuhan — apapun agama yang Anda peluk.
Pelajari Lebih Lanjut →
Tidak jauh dari Candi Borobudur, di lingkungan pedesaan yang tenang, berdiri Panti Rehabilitasi Betesda — sebuah pelayanan yang lahir dari semangat yang sama dengan Bukit Rhema: melayani mereka yang terbuang dan berbeban berat.
Bukit Rhema percaya bahwa setiap orang berhak mendapat kesempatan kedua. Bahwa pemulihan bukan hanya soal medis — tetapi soal hati, karakter, dan iman.
"Terpanggil untuk melayani orang-orang yang terbuang, yang berbeban berat, untuk datang kepada Tuhan." — Matius 11:28
Dengan sistem Home Care — memperlakukan setiap klien layaknya anggota keluarga — dan pendekatan terapi holistik, Panti Betesda telah memulihkan ratusan jiwa sejak berdiri.
5 Bidang Pelayanan
Pendekatan Terapi Holistik
Ketika wisatawan mulai berdatangan ke Bukit Rhema, ada satu kegelisahan yang muncul: dampak ekonominya belum sepenuhnya dirasakan oleh warga lokal. Dari kegelisahan itulah lahir tekad untuk menjadi jembatan antara pariwisata dan kesejahteraan masyarakat sekitar.
Bukit Rhema mengintegrasikan hasil tani warga lokal ke dalam ekosistem kuliner — menjadikan setiap sajian sebagai bentuk dukungan nyata kepada petani dan ibu-ibu desa sekitar Borobudur.
Melalui kolaborasi dengan Kelompok Kerja Latela Dusun Gombong, singkong yang dulu hanya dijual mentah kini "naik kelas" menjadi Singkong Keju Latela — camilan unggulan yang membawa nama desa ke tingkat yang lebih luas.
Dari 3 orang yang terlibat di awal, kini 16 keluarga turut serta dalam ekosistem pemberdayaan Bukit Rhema, bersama Ibu PKK dan kelompok tani yang semakin produktif.
Sejak Agustus 2025, Bukit Rhema menginisiasi program Bukit Rhema Mengajar — sebuah kelas Bahasa Inggris gratis untuk anak-anak desa di sekitar Bukit Rhema.
Program ini lahir dari keyakinan sederhana: dengan keahlian bahasa asing yang lebih baik, anak-anak di masa depan akan memiliki kesempatan lebih luas dan kepercayaan diri yang lebih tinggi — terutama saat berhadapan dengan ratusan wisatawan mancanegara dari 120 negara yang setiap tahun datang ke Bukit Rhema.
Kelas dilaksanakan di ruang meeting Kedai Bukit Rhema, dengan tenaga pengajar dari lulusan S1 Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) yang datang secara sukarela.
Dimulai dengan 14 siswa, program ini bertumbuh menjadi 28 murid hanya dalam hitungan minggu — bahkan kami sendiri tak menyangka antusiasmenya sebesar ini.
"Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang." — Langkah kecil Bukit Rhema untuk mempersiapkan Indonesia yang lebih baik, dimulai dari generasi kecil kita.
Di Bukit Rhema, perbedaan agama bukan penghalang — melainkan alasan untuk saling menghormati dan bertumbuh bersama.
Sebagai Rumah Doa Bagi Segala Bangsa, Bukit Rhema menyediakan ruang ibadah untuk berbagai agama dalam satu kawasan yang sama. Mushola untuk Muslim, Kapel untuk Kristen, Pondok Daud, dan 12 ruang doa pribadi di basement yang terbuka untuk siapa saja.
Wisatawan dari 120 negara dengan beragam latar agama dan budaya telah merasakan ketenangan yang sama di atas Bukit Rhema ini — karena di sini, semua bangsa adalah tamu yang disambut dengan kasih.
"Satu bukit, satu rumah doa, semua bangsa. Inilah wujud nyata toleransi yang kami hidupi setiap hari."